Revitalisasi Fungsi Keluarga

Dimuat di Koran Jakarta, 1 Juli 2011.

Setiap tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional. Suatu momentum penting bagi bangsa ini untuk selalu mengingat arti penting keluarga. Dengan jumlah penduduk sebesar 237,6 juta jiwa (BPS, 2010), saat ini diperkirakan terdapat 58 juta keluarga di Indonesia. Rata-rata jumlah anggota keluarga menurun dan akan tetap berkisar sekitar 4 orang hingga tahun 2025. Ini merupakan konsekuensi alamiah dari keberhasilan Program Keluarga Berencana (KB) di masa lalu. Usia anak dalam keluarga semakin menua. Saat ini diperkirakan 60% anak yang tinggal bersama orang tua berusia di bawah usia 15 tahun. Namun di tahun 2025, akan ada satu di antara dua anak dalam keluarga yang berusia di atas 15 tahun. Program KB juga berhasil meningkatkan usia perkawinan pertama, sehingga peluang anak untuk tinggal lebih lama bersama orang tuanya semakin tinggi.

Keluarga sebagai pilar bangsa
Indikator pembangunan makro memanglah penting, tetapi indikator pembangunan keluarga menjadi tolok ukur pembangunan bangsa. Jika kita cermati lebih dalam, maraknya kasus perceraian, penggunaan narkoba di kalangan generasi muda, terorisme, pergaulan bebas korupsi dan berbagai masalah sosial lainnya berawal dari runtuhnya fungsi keluarga.

Perkembangan anak dalam proses awal kehidupannya terjadi dalam keluarga. Keluarga merupakan wahana pertama dan utama. Keluarga menjadi tempat pertama kali seorang anak untuk belajar, dan bukan di sekolah. Siapa yang memberi pertolongan pertama ketika seorang anak sakit? Jawabannya keluarga. Siapa yang menentukan kualitas gizi seorang anak? Jawabannya keluarga. Pendidikan, kesehatan, gizi, dan keimanan anak merupakan dasar pengembangan kualitas manusia seutuhnya. Peran orang tua dalam kehidupan anak sangat kompleks, dimana ada hubungan yang khas dan unik di antara keduanya.

Teman saya pernah berujar, untuk apa memiliki anak yang pandai, namun tidak jujur. Ini merupakan ungkapan dimana mendidik anak menjadi pandai itu penting, namun tidaklah cukup tanpa mengajarkannya tentang kejujuran. Keluarga menjadi tempat bagi sang anak untuk belajar tentang arti kejujuran. Bagaimanapun juga, keluarga sangat berperan dalam pencegahan dini terhadap berbagai potensi masalah sosial di masyarakat. Jika kita mengabaikan arti penting keluarga, maka sama artinya dengan mengabaikan pilar dasar pembangunan bangsa. Bagaimanapun juga, perilaku bangsa merupakan agregasi perilaku individu setiap penduduknya yang terbentuk di masing-masing keluarga.

Fungsi keluarga
Dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009, keluarga didefinisikan sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Hubungan antar anggota keluarga terbentuk karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Secara umum, keluarga memiliki 8 fungsi: fungsi keagamaan, sosial-budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pelestarian lingkungan. Tidak berjalannya salah satu fungsi akan melemahkan ketahanan keluarga. Di dalam keluarga, seorang anak mendapat pengalaman awal sebagai bekal hidupnya di masa depan. Melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional dan spritual.

Setiap anggota keluarga memiliki perannya masing-masing. Ada peran yang mungkin dapat tergantikan, namun tidak sedikit peran yang sulit tergantikan. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009, di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 13 persen keluarga yang dipimpin oleh single parent. Idealnya, sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak. Namun perceraian yang berpotensi menciptakan kondisi orang tua tunggal dapat melemahkan fungsi keluarga. Sebagai contoh, 63,5 persen anak yang hidup di dalam keluarga dengan orang tua tunggal, tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebaliknya, pada keluarga dengan orang tua utuh, hanya 32,1 persen anak yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ini menjadi sinyal betapa pentingnya peran ayah dan ibu secara bersamaan menjalankan fungsi keluarga.

Tantangan pembangunan keluarga
Paradigma pembangunan perlu didorong dengan mengoptimalisasikan fungsi keluarga. Revitalisasi keluarga berarti kembali menganggap penting keluarga sebagai pilar pembangunan. Jika revitalisasi fungsi keluarga dilaksanakan, maka perlu disadari bahwa ada perbedaan tantangan pembangunan keluarga saat ini dibanding dahulu.

Berkembangnya teknologi secara pesat menyebabkan masuknya pengaruh budaya dan produk dari negara lain. Hal ini secara berangsur-angsur mulai mengubah perilaku generasi muda. Belum lagi meningkatnya komposisi penduduk perkotaan. Saat ini diperkirakan lebih dari 50 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan. Di perkotaan, aksesibilitas penduduk terhadap teknologi lebih baik. Meskipun memiliki dampak positif, tetapi tidak sedikit pengaruh negatif yang ditimbulkan dari masuknya informasi dan produk asing akibat perkembangan teknologi. Keluarga menjadi “benteng” pertama dan utama dalam menangkal dampak negatif tersebut.

Hal yang perlu disadari ialah besarnya potensi membangun keluarga secara lebih baik akibat adanya transisi demografi. Ini merupakan implikasi keberhasilan Program KB di masa lalu yang merubah ukuran keluarga. Masyarakat cenderung hidup dalam keluarga kecil. Ibu memiliki peluang lebih besar untuk bekerja karena anak lebih sedikit. Terjadi peningkatan peluang keluarga untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Kemampuan ekonomi keluarga lebih baik. Kemampuan pembiayaan pendidikan dan kesehatan juga lebih baik. Usia perkawinan juga meningkat, sehingga sebenarnya orang tua memiliki peluang untuk berinteraksi dan membentuk karakter anak dalam waktu yang lebih panjang. Tetapi interaksi ibu dan anak bisa berkurang karena ibu masuk ke pasar kerja.

Pengambilan keputusan dalam keluarga saat ini cenderung lebih demokratis. Di satu sisi, anak akan lebih punya kebebasan menyampaikan pendapatnya, namun di sisi lain dibutuhkan arahan yang tepat dari orang tua. Disinilah dibutuhkan strategi pembangunan keluarga yang tepat.

Kita tidak dapat memungkiri bahwa keluarga menjadi wahana terdepan pembangunan Indonesia. Hari keluarga nasional bukanlah sekedar perayaan tanpa makna. Ada pesan moral yang dapat menggugah kita semua untuk segera merevitalisasi fungsi keluarga. Peran kita di keluarga, menjadi bagian penting dalam peran kita membangun bangsa.